Rabu, 28 November 2012

UKHUWAH BICARA RINDU


KALA RINDU MENYAPA

Hidup ini bagaikan pelangi, penuh warna warni,  ada saatnya suka ada saatnya duka. Namun jika disikapi dengan tuntunanNya tak ada yang percuma atas semua kondisi hidup ini. Bahagianya disikapi dengan rasa syukur, kedukaannya disikapi dengan sabar. Teringat kata-kata bijak seorang sahabat saat berorganisasi di kampus dulu, sahabat yang pada akhirnya harus drop out. Walaupun harus drop out namun keberadaannya tetap terasa dalam hati kami, karena ikatan yang kami sebut ukhuwah. Pada satu waktu ia pernah berkata dalam pesan singkat “Sahabat, jika kau lelah basuhlah peluhmu dengan sabar, ceritakan dukamu pada ketabahan, usaplah air matamu dengan harapan, tersenyumlah untuk sekitarmu, luka itu tanda Allah cinta kepadaMu” . Entah kutipan atau kalimat yang ia rangkai sendiri, namun kalimat itu begitu lekat dalam ingatan. Entah karena momen yang tepat saat ia mengirimkan pesan ini, atau karena muatan ruh yang kuat saat ia mengucapkan kata-kata itu. Saat ini saya hanya bias mendoakan semoga ia senantiasa dalam lindunganNya. Pesan singkat itu hingga kini seolah menjadi penyemangat tatkala menghadapi permasalahan hidup yang dirasa berat. Sabar, tabah, dan tersenyum ikhlas tiga amonisi dikala sedih. Ada lagi pesan singkat yang juga tak bias saya lupakan entah karena indahnya rima pada kalimat itu atau maknanya yang sangat lazim dialami kebanyakan orang, “sahabat, bersabarlah hingga kesabaran itu gagal mengejar kesabarannya” kalimat ini begitu singkat, namun pengulangan kata sabar dalam kalimat ini hingga tiga kali, betapa semakin bertambahnya usia, semakin diri ini mengerti bahwa sabar adalah amonisi yang sangat penting dalam menghadapi berbagai ranjau kehidupan.Misalnya  Sabar ketika buah hati sedang aktif luar biasa, bergerak kesana kemari, menyulap rumah menjadi taman bermain dengan mainan yang berserakan, dinding yang berubah menjadi lukisan abstrak, belum lagi handphone yang tiba-tiba nyemplung ke dalam gelas minum dan langsung “blep” mati tak “bernyawa”. Dan bonus extra ujian kesabaran ketika malam tidak mau tidur walaupun jam sudah menunjukkan pukul 23.00. Dan bonus ujian kesabaran plus plus lagi ketika ia sudah bangun kembali padahal adzan subuh belum lagi berkumandang. Ya…ya…ya…sekecil apapun contoh ragam cerita hidup kita, pasti membutuhkan amonisi yang bernama “sabar” Terima kasih sahabat, jauh sebelum ragam intrik hidup itu menyapa diri ini, engkau telah mengingatkan betapa sabar adalah amonisi yang sangat penting. Ada lagi tulisan yang aku temukan dulu, terdapat  pada bagian header footer sebuah lembaran kertas yang tak sengaja kutemukan pada sebuah tumpukan kertas rumah kost yang kutempati dulu, disana tertulis “jangan tanyakan mengapa saudaramu jatuh ke dalam jurang, tapi tanyakan dimana dirimu saat ia berada di tepi jurang” hingga saat ini setiap kali mendengar kisah keterpurukan hidup seseorang yang dikenal, kadang terbetik mengapa diri ini tak pernah mendengar kesulitan-kesulitan yang dihadapi orang tersebut sebelum pada akhirnya ia jatuh terpuruk, yang terdengar seringkali hanya saat mereka gagal dan terpuruk saja. Ya…ya..ya… kalimat ini seringkali menjadi penyemangat untuk berbenah diri, agar dapat lebih peduli, dan berempati terhadap segala macam peristiwa yang ada dihadapan. Meskipun sering pula gagal merealisasikannya. “ingin hati memeluk gunung apa daya tangan tak sampai” .Mungkin beban hidup kini memang sudah lebih banyak dibandingkan masa lajang dulu.  Dimana diri ini bias mengeksplorasi banyak hal dengan ketersediaan waktu, fikiran, tenaga dan materi yang cukup. Kadang sekadar membalas sms pun mesti ditunda karena si buah hati yang tak bias dibiarkan lepas dari pandangan mata, sedikit saja lalai, pasti ada barang yang jatuh, pecah atau malah ia sendiri yang kadang teruka. Karena sering menunda, sering pula yang akhirnya lupa tak dibalas sms yang masuk, malah ada sms masuk sdh tak sempat lagi membacanya. Kala rindu masa kuliah dulu, sejenak kupejamkan mata, menerbangkan angan pada masa lalu, kuputar mesin waktu tuk membawaku kembali ke masa lalu, kutekan tombol power dan “jrep” akupun melompat tinggi ke masa lalu,########******* memulai hari dengan sholat berjama’ah, tilawah bersama, saling bersalaman dan peluk hangat dengan bisikan kata”afwan ya..”…indaaah sekali..kemudian dilanjutkan dengan memenuhi undangan syuro kecil di sebuah musholla yang kami sebut Ar Rosul, jalan menuju kesana kutempuh dengan jalan setapak disamping jurang penuh pohon bambu, sunyi sepi kala pagi, hanya terdengan bunyi angin yang membuat pohon bamboo sambil bergesekan dan meliuk-liuk seolah mengucap salam dengan ramah “Assalamu’alaikum….”,syuro di awali pembacaan kalam ilahi untuk menjernihkan hati dengan harapan hasil syuro yang didapat akan menjadi keputusan yang tak lepas dari tuntunanNya. Dan menjadi bagian dari jalan  keberhasilan dakwah.Selepas syuro dilanjutkan kegiatan perkuliahan, yang sesekali kadang harus ditinggalkan ketika ada seruan aksi solidaritas atau aksi penolakan kebijakan pemerintah. Terkadang hampir tak dapat membedakan tujuan perantauan ke Bandung, mau kuliah atau “berorganisasi”. Dilain waktu, hari itu diawali dengan sebuah kajian kecil, berbagi ilmu dengan adik-adik di kampus, atau ada waktunya pula mencharge kembali ruhiyah yang mulai kosong dengan seorang teteh yang sangat berjasa telah mengenalkan pada ikatan hati yang disatukan karena kecintaan kepada Allah, Sering pula sms darinya diakhiri dengan I lov u coz Allah. Saat itu tak begitu paham maksudnya, namun kini, ketika sudah “turun gunung” berhadapan dengan dunia yang sebenarnya, barulah tersadar, I lov u coz Allah sungguh harta yang sangat bernilai, dimana saat ini ikatan yang ada sering kali memandang status social, dan nilai – nilai kebendaan yang sesungguhnya sangat tak bernilai di hadapan Allah. Di tengah kehidupan masyarakat penganut aliran “pragmatisme dan materislisme”, sungguh keberadaan “I love u coz Allah” menjadi “barang” yang sangat langka. #######******** …..”JREP!” tiba-tiba mataku terjaga, dan tersadar oleh sebuah tangisan bayi lucu, yang mengoyak-ngoyak minta susu. Ah, rupanya aku sedang rindu, rindu itu telah menerbangkan anganku pada masa lalu, masa yang indah yang tak dapat ku ulang kecuali dalam angan dan lamunan. Aku hanya dapat menghibur diri, segala sesuatu ada masanya, dan kini masanya sudah berbeda, dakwahnya seorang mahasiswa mungkin memang seperti itu, sekarang, ketika perannya sudah berbeda, bumi yang dipijak sudah berbeda,maka jalan yang akan dilaluinya pun berbeda, cara dakwahnya pun berbeda, kadang rindu dengan amanah-amanah yang pernah diberikan dulu, tapi Allah lebih tahu kekuatan hambaNya untuk mengemban suatu amanah. aku hanya dapat berdoa, semoga Allah senantiasa melindungiku dan semua saudara-saudaraku dimanapun dan apapun perannya saat ini……

#Catatan saat ukhuwah bicara rindu : 1

Tidak ada komentar:

Posting Komentar